
JAKARTA – Bertempat di Kantor Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia (DIPI), Lantai 17 Gedung Perpustakaan Nasional RI, sebuah langkah strategis untuk masa depan kesehatan dan lingkungan Indonesia resmi digelar. Pada Kamis, 9 April 2026, Diskusi Nasional Multi-pihak bertajuk “Aksi Bersama Menuju Pola Makan Sehat dan Berkelanjutan di Indonesia” mempertemukan berbagai elemen penting mulai dari pemerintah, sektor swasta, akademisi, hingga organisasi masyarakat sipil.
Acara yang diselenggarakan atas kerja sama Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia (DIPI) dan WWF Indonesia ini menyoroti urgensi perubahan pola makan masyarakat. Latar belakang diskusi ini berakar pada fakta bahwa sistem pangan global saat ini menjadi salah satu pendorong utama krisis iklim, yang berdampak pada hilangnya keanekaragaman hayati dan degradasi lingkungan.
Mengatasi Beban Ganda: Kesehatan dan Lingkungan
Dr. Teguh Rahardjo, Wakil Direktur Eksekutif DIPI, dalam sambutannya menekankan bahwa nutrisi bukan sekadar urusan perut, melainkan faktor kunci yang mempengaruhi pertumbuhan fisik dan perkembangan otak. Namun, tantangan besar menghadang dengan maraknya makanan ultra-proses yang tinggi gula, garam, dan lemak, terutama di kalangan generasi muda.
“Pola makan sehat dan berkelanjutan adalah pola makan yang tidak hanya memenuhi gizi, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan dan dapat diterima secara budaya,” tulis kerangka acuan kegiatan tersebut.
Panelis dalam diskusi ini memberikan perspektif yang komprehensif:
- Samuel Pablo Pareira (WWF Indonesia): Membahas hubungan diet berbasis planet dengan pengurangan dampak lingkungan seperti deforestasi dan emisi gas rumah kaca.
- Dr. Prayudi Syamsuri (Kemenko Pangan): Berbagi mengenai kebijakan ketahanan pangan nasional dan program pangan bergizi lokal.
- Yuvlinda Susanta (Aprindo): Menjelaskan peran ritel modern dalam mempromosikan pilihan sehat melalui tata letak toko dan pelabelan produk.
- Agnes A. Mallipu (GAIN Indonesia): Menyoroti tantangan akses gizi, di mana 43% populasi Indonesia masih kesulitan menjangkau biaya makanan sehat.
Langkah Nyata ke Depan
Diskusi ini tidak hanya berhenti pada wacana. Melalui sesi Focus Group Discussion (FGD), para peserta merumuskan sejumlah langkah tindak lanjut yang konkret. Badan Pangan Nasional ditargetkan untuk segera menyelesaikan peraturan mengenai insentif bagi pangan lokal serta pengembangan kurikulum konten lokal di sekolah bersama Kemendikbud.
Selain itu, sektor ritel seperti Superindo dan jejaring Aprindo berkomitmen untuk memperluas edukasi konsumen melalui inisiatif seperti indikator tingkat gula dan promosi buah lokal. Pemerintah juga didorong untuk meninjau kembali panduan “Isi Piringku” agar lebih relevan dengan konteks budaya dan wilayah lokal di seluruh Indonesia.
Pertemuan ini ditutup dengan kesepakatan kuat bahwa transformasi sistem pangan yang kompleks ini membutuhkan kolaborasi sistemik bukan sekadar pilihan individu demi menjamin ketahanan pangan bagi generasi masa depan Indonesia.

